Pembinaan Berkurikulum dan Sirkuit Kompetisi Intern, Demmy Giring Atlet Beltim Hingga Level Internasional

by -
Pembinaan Berkurikulum dan Sirkuit Kompetisi Intern, Demmy Giring Atlet Beltim Hingga Level Internasional (2)
Demmy Hendatha

JABEJABE.co Mendatangi Avignam Climbing Club (ACC), sebuah organisasi pimpinan Fernando Na Dapdap yang membidangi pembinaan calon atlet usia muda.

Oleh Dapdap, sapaan akrab Fernando Na Dapdap, selaku pimpinan ACC pihaknya memberikan kesempatan sesi wawancara dengan Demmy Hendatha, salah satu perintis cabor panjat tebing Belitung Timur (Beltim) dan duduk pada kepengurusan Pengda FPTI Babel.

Dalam perjalanannya, ACC memandatkan pembinaan atletnya kepada Demmy. Sebagaimana diketahui, sosok ini sudah banyak menciptakan atlet – atlet Beltim, khususnya cabang olahraga panjat tebing dari nol.

Oleh karennya, jabejabe.co ingin Demmy berbagi ilmu tentang kepelatihan dan tujuan pembinaan atlet jangka panjang. Dari jenjang atlet kabupaten menjadi atlet nasional bahkan internasional bukan hal yang terlalu rumit baginya, sebagaimana perjalanan atlet yang sudah ia cetak selama berkiprah di panjat tebing.

Sehubungan dengan hal tersebut, berikut petikan wawancara jabejabe.co dengan Demmy Hendatha:

Sebagai pelatih tentunya anda punya sudut pandang tentang bagaimana cara memajukan olahraga di Belitung Timur?

Kemajuan olahraga adalah dengan memperbanyak sistem pembinaan dan kompetisi secara berkala. Nah sehubungan dengan pembinaan ini tentunya tidak lepas dari peran pelatih, karena hal ini sangatlah penting bagi pembentukan atlet, mengingat keberadaan pelatih untuk pembinaan saat mengikuti rutinitas kompetisi sangatlah diperlukan.

Maka club kami membuat sistem pembinaan kurikulum yang disatukan dengan mensirkuitkan kompetisi interen atlet dalam club. Asal, sistem pembinaan yang benar dan berkesinambungan, karena hal itulah yang menjadikan sebuah prestasi.

Selain itu, club yang mempunyai ketenagaan kepelatihan yang bersertifikasi sangatlah menunjuang untuk pembinaan itu sendiri.

Anda bicara club, bagaimana dalam hal ini pengembangan olahraga melalui club?

Fungsi organisasi dalam membina dan mengembangkan kegiatan olahraga harus mulai dari lingkup club sebagai lapisan terbawah sampai ke tingkat Pengurus Besar sebagai lapisan teratas merupakan suatu keharusan yang mutlak keberadaannya.

Lebih dari itu, telah disadari semua pihak bahwa organisasi itu harus memiliki karakteristik yang khusus sesuai dengan olahraga yang dikembangkannya. Suatu organisasi harus berjalan dengan struktur dan prosesnya yang tidak mungkin lagi ditangani secara setengah – setengah, namun harus dikelola oleh orang-orang yang profesional dan sumber daya yang terukur.

Sumber daya organisasi yang dimaksud adalah bukan hanya sumber daya keuangan tetapi sumber daya manusia juga berpengaruh. Berdasarkan keterangan di atas, perlu sebuah kajian konsep yang paling tepat dalam rangka pengembangan dan pembinaan organisasi olahraga sesuai dengan karakteristiknya agar memiliki peran dalam pembinaan prestasi olahraga untuk mencapai tujuan prestasi maksimal.

Dukungan pihak yang menaungi bidang olahraga pun sangat dibutuhkan, karena ada tingkatan aturan yang tak mungkin bisa disamakan. Pembinaan club bisa dijadikan tolak ukur kemajuan atlet, yang mana atlet yang akan dibina dalam pelatihan khusus, dan akan dikembalikan pada masing – masing club saat usai melakukan kompetisi besar seperti Porprov, PON, Asian Games atau Sea Games. Itu akan sangat menunjang perkembangan atlet itu sendiri untuk persiapan even – even ke depannya.

Bagaimana dengan peran dana dalam olahraga?

Olahraga memang banyak membutuhkan anggaran, itu tidak bisa dipungkiri. Tetapi kita harus bisa menyiasatinya. Dan dengan adanya kemajuan olahraga juga prestasi prestasi atlet daerah, maka akan membuat kita sadar dan berlomba untuk memajukan olahraga di Beltim ini, tanpa ada kesenjangan dalam regenerasi dan perbedaan atlet lapisan.

Bagaimana dengan penjaringan bibit – bibit atau pun peminat baru dalam olahraga?

Kita hanya perlu membuat semua bentuk olahraga di Beltim populer di kalangan masyarakat. Gimana caranya?

Memperbanyak jenis kompetisi lokal dengan tujuan penjaringan bibit dan pembentukan mental atlet untuk siap menjadi juara.

Terkait dengan kompetisi, tentunya membutuhkan dukungan banyak sponsor. Dan, selama ini dukungan sponsor menjadi salah satu kendala. Bagaimana cara menyiasatinya?

Menjadikan kemasan kompetisi olahraga menjadi lebih menarik bagi para sponsor, karena mempunyai cakupan media yang lebih luas. Sehingga penyelenggaraan suatu kompetisi menjadi lebih tertata. Dan, kita juga coba change direction yaitu dengan how to finance the whole competition? Itu yang harus kita siasati.

Jika sebelumnya sangat tergantung kemampuan tuan rumah (host) ataupun dana KONI atau Dana Pengkab, maka kita di ACC mencoba memutar arah menjadikan sponsor atau dinas terkait yang akan mengambil peran itu.

Apakah dengan kompetisi efektif menelurkan bibit-bibit baru?

Yup, kenapa harus seperti itu? karena akan muncul bibit baru dengan cepat tanpa ada pendiskriminasian atlet. Karena semua mempunyai dan ingin merasakan juara, juga kepercayaan juara yang tinggi.

Ya, memang, ternyata kuncinya adalah rasa percaya (Trust). Bagaimana tidak dalam satu rangkaian kesinambungan kompetisi lokal memang melibatkan jumlah uang yang sangat besar. Untuk masalah yang satu ini induk banyak yang belum dapat meng-handle-nya dengan baik.

Kenapa belum? Karena sering kali timbul rasa saling curiga dengan masalah anggaran. Alhasil dari kompetisi tersebut justru akan timbul perpecahan, bukannya prestasi.

Mungkin benar ungkapan itu, dengan rasa saling curiga, tidak ada yang bisa dibangun dengan baik. Bayangkan kalau di antara semua pekerja yang sedang membangun jembatan mempunyai rasa saling curiga, mungkin jembatannya gak akan pernah berumur panjang.

Kembali dengan Memajukan olahraga lewat pembinaan berkesinaambungan dan berkala, maka peran berbagai insan harus berani berkomitmen untuk menjadi perintis. Adanya kompetisi berkala selama satu tahun, maka akan tumbuh banyak bibit atlet dan calon – calon juara.

Terbayangkah betapa sibuknya atlet kita berlatih untuk menggapai juaranya di setiap kompetisi berkala biar hanya lingkup club. Alhasil, akhirnya adalah prestasi atlet pemula, ada atlet senior lebih matang mental tandingnya dan akan semakin menggila saat mengikuti kompetisi di luar club. Karena juara itu akan membuat atlet ketagihan ,maka prestasi atlet kita sebenarnya terjadi akibat banyaknya melakukan kompetisi itu sendiri.

Bagaimana cara merealisasikannya?

Untuk merealisasikan hal di atas memang diperlukan beberapa hal, pertama sarana dan prasarana. Kedua partisipasi atlet. Ketiga, hadiah kompetisi. Keempat, juri. Dan terakhir, kelima, kepanitiaan Berdasarkan pengalaman.

Biaya terbesar ada di pengadaan sarana dan prasarana, karena itu agar semua dapat terlaksana cukup kita kembalikan peran sponsor. Hal ini supaya pelaksanaan kompetisi berjalan baik dan agar tidak terkesan hanya atlet-atlet terbaik, maka harus mengonsep suatu sistem pemerataan tanpa diskriminasi atlet.

Dukungan KONI dan Dispora pun juga harus terdepan, dan harus fleksibel. Bagaimanapun mereka tidak boleh kaku dalam penanganan kemajuan olahraga, butuh peran kekeluargaan, sportifitas, profesional dengan tujuan pencapaian prestasi.

Ingat, jangan membentuk hal baru untuk memikirkannya lagi, it will take too much time! Memang susah menentukan orang – orang yang layak pada bidang olahraga, kecuali kalau tujuannya adalah membuat tidak berhasilnya suatu prestasi.

Jika bicara kendala, apa hal utama yang menjadi kendala terhambatnya perkembangan kemajuan olahraga di Beltim?

Setelah berpikir ternyata kendala utama yang dihadapi hanya kesusahan mencari pihak ketiga (sponsor) sangatlah kecilkan masalahnya. Maka dengan adanya kompetisi olahraga berkala, sponsor akan berdatangan.

Menyakinkan sponsor yaitu dengan dituangkan ide dalam bentuk kertas, ide-ide tersebut harus dulu dipresentasikan dalam bentuk tulisan. Minta waktu, dipromosikan, negosiasi, dapat uang, baru dapat dilaksanakan. Semoga pada waktu yang akan datang selalu begitu.

Peran KONI juga sangatlah penting dalam hal ini. Nah, berbicara sistem anggaran dan penyediaan sarana prasarana, mungkin jadi masalah bahkan momok sebuah club.

Terakhir nih, katanya duit bukan segalanya. Kan percuma jika ada duit tapi manajemen sistem keolahragaan amburadul. Bagaimana menurut Anda?

Kalau dulu duit selalu dijadikan kambing hitam, tapi sekarang kayaknya yang jadi kambing hitam adalah ketidakbisaan kita menyiapkan paperwork, karena duit bisa dicari setelah semua perlengkapan paperwork sudah siap untuk disajikan. Salam Olahraga! Maju Prestasi! Maju Beltim dengan Olahraga!

Editor: jb
Reporter: Subrata