Darah T

by -
Catcil Subrata Kampit - Darah T

Oleh: Subrata Kampit**

BEBERAPA kali seusai nonton film-film bagus, biasanya saya stop sementara untuk nonton film lain. Hanya tak ingin merusak rasa.

Iya kalau film yang ingin ditonton setelahnya lebih bagus, misalkan jelek, rusakla rasa.

Film-film menarik tersebut seperti Lord of The Ring, American Treasure, Dead Poet Society, Shawshank Redemption, August Rush, dan lain-lain. Ada banyak.

Membaca novel juga begitu. Karna bagaimana pun pembaca punya teater sendiri dalam kepalanya. Kita menyebutnya imajinasi. Novel-novel ini juga ada banyak, diantaranya Harry Potter, Parfume, Toto Chan, dan Laskar Pelangi.

Anggap saja itu serupa, seperti dejavu-nya rasa usai menonton film atau novel-novel bagus. Yang saya maksud kiranya sekedar sebuah pembicaraan yang menginspirasi. Hanya percakapan di tengah mangrove, ada kopi dan rambutan yang agak asam untuk sesekali menjeda kelakar.

Terus terang, jarang sekali saya, anda akan menemukan orang ‘gila’ yang menginspirasi. Tak ada seorang pun dari masing-masing kita yang mau gila.

Singkat kata ceritanya begini, sebelumnya saya diundang via telpon, Jumat siang (28/2/2020). Suara melalui piranti elektronik menyebut, di sini (Hutan Mangrove) santai, teduh, kopi juga ada. Hanya tiga hal sederhana itulah yang membuat saya ngebut mengendarai sepeda motor sejauh 21,2 kilometer. Dari Ngarauan Manggar ke Pantai Tambak Kecamatan Damar, Belitung Timur.

Darah T (3)

Di Pantai Tambak Damar kini dibangun kawasan sederhana eksplor wisata hutan mangrove.

Tak hebat skenario wisata mangrove-nya, tak panjang seperti Gusong Bugis atau Kuale di Sijuk. Yang biayanya ratusan juta hingga miliaran rupiah.

Poin yang ingin disampaikan bukan hanya sekedar konsep atau dana miliaran. Lebih dari itu, bagaimana seseorang mengejawantahkan kecintaan pada kelestarian mulai dari diri sendiri, secara sederhana, serta dengan cita-cita agung.

Area susur mangrove di Pantai Tambak menggunakan papan, pendek, tak kurang dari 100 meter. Biayanya pun kecil, seharga satu motor yang dijual butuh ke pembeli.

Tempatnya memang santai, adem, kopi juga tersedia. Dan, isi percakapan seputar perhatian pada lingkungan. Saya pun lebih banyak mendengarkan lalu sesekali bertanya. Bahkan beberapa kali saya mengulang tanya agar kembali ke hal-hal yang sudah dibahas. Selain menarik bagi saya, juga ingin menguji ketidakpercayaan.

Orang yang mengundang saya ini biasa dipanggil Yudi, lengkapnya Yudi Amsoni. Akun Facebooknya Yudi Senga. Dan kami, para golongan darah T mengetahui namanya berdasarkan akun facebook, Yudi Senga. Yudi juga berdarah T.

Usianya enam tahun lebih tua dari saya. Dengan demikian, mulai detik ini juga, saya rubah sebutan beliau dalam tulisan ini menjadi bang Yudi.

Tiba di situ saya langsung diajak berkeliling untuk eksplor mangrove. Bagus, ada area bersantai di dalamnya.

Ide gila lainnya juga rumah pohon, targetnya wisatawan luar negeri. Mudah-mudahan terealisasi, aamiin.

Saat membuat jembatan selebar empat papan (100 sentimeter) ini tak ada satu pun mengrove yang ditebang. Maka, dahan yang melintang, meski jadi penghambat, tidak dipotong. Namun itu tak berarti menghalangi keindahan. Karena prinsipnya membangun alam, ia tak ingin merusak sedikit pun, kecuali merapikan saja.

Terminal pertama adalah jembatan yang dibuat agak melebar berbentuk persegi. Letaknya bersebelahan, kiri dan kanan. Di bagian itu dipasang kursi alami potongan pohon. Enak untuk bersantai.

Kemudian, sekitar 15 meter selanjutnya terdapat gazebo dan susunan kursi meja di depannya. Kedua bagian ini dibatasi jalan susur. Sama dengan terminal pertama.

Kami pun memutuskan untuk berhenti di teminal dua. Kopi pun dipesan tiga. Saya dua, bang Yudi satu. Ada rambutan juga.

Darah T (2)

Cerita bang Yudi cukup panjang. Ringkasnya seputar pengembangan wisata mangrove yang ia awali dengan modal sendiri dan tanpa bantuan. Paling banter satu dua orang kawan dekat.

Kegilaan pertama bang Yudi adalah bahwa biaya pembangunan area eksplor mangrove dari jual motor sendiri.

“Saya jual satu motor untuk ini,” ujarnya.

Motornya masih bisa ia pakai, namun harus dicicil, tentu anda paham maksud saya.

Apakah ada keuntungan dari ini? tidak! Setidaknya gratis sampai tulisan ini dimuat.

Sebaliknya, semakin banyak yang datang bang Yudi makin senang. Pelajaran terhadap lingkungan, terutama kecintaan, itu yang ingin ia tanamkan kepada penerus. Terutama anaknya.

“Jika suatu saat nanti air di sekitar muara sudah keruh, mangrove habis, minimal kalau ditanya cucu, saya bisa jawab. Kakek sudah pernah berjuang, tapi kalah,” kata Bang Yudi.

Kegilaan kedua bang Yudi menentang sendiri. Bukan tak mendapat dukungan masyarakat, tapi ia tak ingin melibatkan masyarakat terlalu jauh–penentangan bagi perusak lingkungan dengan alasan perut.

Semua tahu, kelestarian lingkungan dan tambang tak pernah akur. Dan Belitong dari dulu pun terus ditambang. Maka, konflik lingkungan dan tambang seperti air laut, pasang surut.

Nampaknya bang Yudi pembelajar lingkungan dan membaca aturan. Tak sedikit pun mundur. Kakinya tak mau bergeser, meskipun ke samping.

Tawaran materi bukan tak ada jika untuk berfoya-foya, ia tetap tak mau bergeser ke samping. Apalagi mundur. Hal ini terutama terkait dengan adanya gerakan masyarakat yang menolak adanya aktifitas tambang di Daerah Aliran Sungai (DAS).

Justru kegilaan yang lebih awal adalah sepinya bengkel yang selama ini menjadi priok nasi bagi keluarganya. Menentang pertambangan  ilegal dan perusakan lingkungan membuat pekerja tambang enggan menggunakan jasa di bengkelnya untuk perbaikan alat-alat. Sejak saat itu, drastis pendapatannya menurun sampai sekarang.

Namun bang Yudi paham, karena rejeki bukan dari manusia, itu pemberian Allah SWT.

Bang Yudi lahir di Serpong, Tangerang Banten. Lahirnya di kota sekelas metropolintan, tapi darahnya kampungan. Melihat tanah, air, dan lingkungan orang tuanya porakporanda, darahnya mendidih. Kecintaan terhadap Belitong yang dihinggapinya belum genap 10 tahun begitu kuat.

Saat ini bang Yudi sangat konsen pada pengembangan wisata mangrove. Markasnya tak lagi di Bengkel.

Sedikit melirik ke arah mangrove.

Dalam buku Mangrove Guidebook for Southeast Asia yang ditulis Wim Giesen, setidaknya ada 51 jenis tanaman pesisir laut tersebut. Namun yang sampai saat ini terdata, 21 jenis diantaranya bisa ditemukan di Sungai Manggar

Tak semua jenis yang saat ini sedang dalam proses pembibitan di Pantai Tambak. Sementara hanya 8 (delapan) yang diantaranya Rizophora Apiculata, Rizophora Mucronata, Rizophora Stylosa, Ceriops Tagal, Bruguiera Gymnorhiza, Bruguirea Cylindrica, Nypa Fruticans, dan Xylocarpus Granatum.

Jumlah bibit kini mencapai 30.000. Nantinya akan disebar di wilayah pesisir yang miskin mangrove. Juga di wilayah eks penambangan yang lupa direklamasi.

Darah T (1)

Mangrove adalah salah satu jenis tumbuhan kokoh. Ia mampu menahan terjangan ombak. Lebih dari itu, menurut ahli, tumbuhan mangrove mampu bertahan pada gempa 12 skala richter. Inilah alasan mengapa mangrove penting.

Tidak sekedar mengumpulkan, satu bibit yang diperoleh dari masyarakat dibeli bang Yudi seharga Rp200,- Belum lagi ibu-ibu yang melakukan penanaman bibit menggunakan gelas bekas minuman yang berserakan di Pantai Tambak, mereka dibayar Rp20.000,- Kerja mereka hanya tiga jam saja.

Saya sendiri, meskipun bersetuju dengan idealisme alam, belum tentu mampu berbuat hal sama. Meski (secara pribadi) sama-sama memiliki Darah T. T berarti Tolak. Menolak terhadap jenis-jenis perusakan alam oleh tambang, illegal loging atau pun jenis perbuatan destruktif lainnya.

Saat pulang lagi ke Manggar, ada perasaan sejuk dengan kelakar-kelakar yang mengisnpirasi. Dalam perjalanan yang ada rasa senang dengan perubahan dan konsep pelestarian. Dan rasa senang itu sama nilainya seperti usai nonton film atau pun membaca buku yang disukai.

Percakapan kecil di area mangrove menginspirasi untuk ditulis. Tak ingin ditumpuk berlapis dengan wawancara atau kelakar lain. Imajinasi di atas imajinasi. Biar rasa dan jiwa itu tak hilang. Jiwa Darah T.

**Pembelajar memberita di Pulau Belitong