Bak Ayam Geprek, Harga Bawang Merah dan Cabai di Belitung Makin Pedas

by -
Bak Ayam Geprek, Harga Bawang Merah dan Cabai di Belitung Makin Pedas (1)
Suasana Pasar Induk Tanjungpandan, Senin (22/2/2021). Foto: Mondox/ jabejabe.co

TANJUNGPANDAN, JABEJABE.co – Harga kebutuhan dapur seperti halnya cabe (Cabai), bawang putih, kunyit, dan lengkuas masih menunjukkan kenaikan di Pasar Induk Tanjungpandan, Senin (22/2/2021).

Dalam kondisi normal, harga cabe rawit per kilogramnya berkisar antara Rp65ribu hingga Rp70ribu saat ini melonjak antara Rp150ribu hingga Rp160ribu.

Demikian juga dengan cabe merah. Saat kondisi normal, per kilogramnya cabe merah dijual antara harga Rp30ribu hingga Rp38ribu. Namun saat ini naik hampir dua kali lipat yakni antara Rp55ribu hingga Rp60ribu.

Meski tidak begitu signifikan, bawang merah yang normalnya Rp27ribu hingga Rp30ribu per kilogram mengalami kenaikan Rp35ribu.

Berbeda halnya dengan bawang putih, harga normalnya berkisar antara Rp18ribu hingga Rp22ribu per kilogram mengalami kenaikan menjadi Rp28ribu.

Sementara itu lengkuas yang normalnya Rp12,5ribu sampai dengan Rp14ribu per kilogram menjadi Rp18ribu. Kemudian kunyit yang biasanya hanya Rp12ribu – Rp13ribu per kilogram saat ini seharga Rp15ribu.

Jahe dan kemiri juga ikutan naik. Biasanya harga jahe antara Rp24ribu – Rp27ribu per kilogram juga naik menjadi Rp35ribu, sedangkan kemiri yang paling tinggi hanya Rp35ribu per kilogram juga naik menjadi Rp45ribu.

Salah pedagang di Pasar Tradisional Tanjunpandan, Siti mengatakan sudah sepekan terakhir harga sembako dan bumbu dapur naik.

“Bukan cuma sembako dan bumbu dapur, bahan seperti plastik kresek yang mulanya 900 rupiah sekarang 1000 rupiah, jadi rata-rata naik 500 hingga 1000 pak,” ucap Siti.

Apalagi, menurut Siti karena mereka membeli dalam kuota besar, maka kenaikan tersebut sangat terasa.

“Kami kan sistem beli kuota besar, jadi kalau naik itu 1000 hingga 2000 rupiah itu sangat lumayan (Terasa) kenaikannya, pak,” ujarnya.

Dengan budget besar yang dikeluarkan pedagang saat ini Siti mengaku khawatir, “Yah hitung-hitungan berdagang. Terkadangkan pembeli tentu ingin barang-barang bagus semua, kalau yang tidak bagus, atau buruknya kami yang rugi pak,” kata Siti.

Di sisi lain, salah satu pengunjung pasar saat ditemui jabejabe.co mengaku pasrah dengan naiknya harga bumbu dapur yangterjadi saat ini.

Dak kiape-kiapelah (Nggak gimana-gimana) bang, tetap dibeli karne kebutuhan bang,” ujer Della saat ditanya jabejabe.co.

Apalagi bagi Della, selain kebutuhan sehari-hari, barang-barang yang dibeli juga untuk kebutuhan berjualan, karenanya jika pada barang-barang tersebut tidak ada akan repot.

Diakui Della, kondisi naik turunnya bahan dapur sudah sering terjadi selama ia membukan usaha makanan.

“Terkadang pas beli kebutuhan tersebut ada yang lagi murah, kadang ada juga yang agak mahal,” ujarnya.

Tak hanya Della, Mas Suprai, pedangang rantau dari jawa tengah yang sehari-hari jualan nasi goreng juga mengeluhkan harga bahan dapur yang melambung tinggi.

Namun sebagai pedagang, ia pun tidak bisa berbuat apa-apa

“Kalau tidak beli yah saya gak jualan. Kalau harga tinggi begini palingan beli bahan-bahan tersebut porsinya agak diturunin,” ucapnya, “Mau beli banyak modalnya besar, ditambah masa pandemi seperti ini untuk sekarang dagangan kurang rame mas.”