Bentengi Diri dan Tangkis Diri dari Stres Ujian Nasional

by -

Oleh : Natalia Dasmona**

Ujian Nasional (UN) selalu menjadi momok menakutkan bagi para pelajar tiap tahun, baik yang sekolah dasar sampai ke sekolah menengah atas. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim sempat mengatakan, rencana penghapusan Ujian Nasional (UN) di Indonesia.

Namun, ia menekankan bahwa rencana tersebut masih dikaji oleh pihaknya dan UN 2020 masih akan berjalan hingga tahun berikutnya.

Mendekati awal bulan Januari sampai dengan akhir Februari adalah waktu di mana para pelajar mulai memikirkan bagaimana kiat belajar dalam menghadapi Ujian Nasional (UN) yang sudah semakin dekat.

Ada berbagai macam kegiatan yang mereka lakukan demi tuntutan atau tekanan untuk bisa lulus dengan nilai memuaskan. Inilah yang terkadang membuat para pelajar akhirnya sering mengeluh lelah dan merasa stres berkepanjangan.

Jenis stres akademik yang hadir di kalangan para pelajar, seringkali diabaikan dan dibiarkan terjadi tanpa penanganan yang tepat. Sehingga menimbulkan gejala depresi yang mengancam kesehatan mental para pelajar. Berbagai level tingkat tekanan mental ini puncaknya bisa berakibat bunuh diri.

Menurut sebuah studi, stres adalah masalah terbesar yang dihadapi remaja masa kini. Pada 2012, WHO (World Health Organization) menyebutkan, stres adalah salah satu penyebab terbesar beban penyakit jiwa secara global. Dari riset World Mental Health Survey yang diselenggarakan di 17 negara pada 2012 disebutkan, 1 dari 20 orang mengalami serangkaian gangguan depresi.

Gangguan stres yang seringkali terjadi pada usia muda. Merujuk data hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018, prevalensi penderita skizofrenia atau psikosis sebesar 7 per 1000 dengan cakupan pengobatan 84,9%.

Sementara itu, prevalensi gangguan mental emosional pada remaja berumur lebih dari 15 tahun sebesar 9,8%. Angka ini meningkat dibandingkan tahun 2013 yaitu sebesar 6%.

Penyebab umum para pelajar merasa stres saat ujian tiba adalah kurangnya motivasi yang disebabkan oleh beberapa masalah pribadi atau mungkin masalah di rumah yang mengurangi tingkat semangatnya.

Kompetisi yang sangat tinggi ketika ujian juga termasuk penyebab umum para pelajar yang mengalami stres. Mereka merasa dari jumlah lembar tambahan yang digunakan selama ujian hingga nilai yang mereka peroleh, mereka dihadapkan pada persaingan konstan. Kompetisi ini akan mendorong para pelajar untuk melampaui kemampuannya tetapi juga dapat menyebabkan banyak stres.

Lantas, bagaimana cara yang tepat untuk mengatasi atau mengantisipasi agar tidak merasa stres menghadapi Ujian Nasional (UN)?

Diberitakan oleh Mirror.co.uk, Sabtu (9/11/2019), viral sebuah universitas menemukan metode yang tak biasa untuk membantu mahasiswanya mengatasi stres dalam menghadapi ujian.

Metode tersebut yakni dengan sebuah kuburan meditasi. Universitas yang terletak di Kota Nimigen, Belanda ini menjadi bahan perbincangan publik setelah seorang alumni mengungkapkan pendekatan mereka untuk mengelola stress siswanya.

John Hacking, seorang staf di kapel mahasiswa yang memprakarsai hal ini mengatakan, kuburan tersebut sebenarnya untuk membuat siswa lebih menghargai waktu mereka dibumi ini. Unik, bukan?

Menurut penulis, ada beberapa cara atau tips yang harus dipahami oleh para pelajar agar perasaan cemas/stres menghadapi Ujian Nasional (UN) bisa diminimalisir atau dihilangkan.

Beberapa cara yang dapat para pelajar lakukan agar tidak stres sebelum menghadapi Ujian Nasional (UN) adalah memahami prosedur kelulusan dari sekolah.

Hal yang pertama yang harus dipahami oleh para pelajar agar tidak terlanjur stres menghadapi Ujian Nasional adalah bahwasannya Ujian Nasional bukannlah 100% penentu kelulusan, jika dulu penentu kelulusan 100% adalah nilai dari Ujian Nasional maka saat ini penentu kelulusan adalah akumulasi dari nilai Ujian Nasional dan nilai dari sekolah.

Namun dengan memahami prosedur kelulusan, bukan berarti kita bisa santai dan bermalas-malasan untuk menghadapi Ujian Nasional akan tetapi tetap berusaha mendapat nilai terbaik dalam Ujian Nasional. Itu adalah prioritas utama.

Kedua, melihat Ujian Nasional sebagai tantangan bukan rintangan. Agar kita bersemangat dalam menghadapi ujian nasional maka persepsi yang harus kita tanamkan dalam pikiran kita adalah dengan menggambarkan bahwa Ujian Nasional merupakan tantangan untuk menguji seberapa besar kemampuan kita.

Dengan melihat Ujian Nasional sebagai tantangan untuk meningkatkan kemampuan kita, maka perasaan semangat, serius, optimis akan muncul dalam diri kita untuk bisa menaklukan tantangan tersebut.

Ketiga adalah atur porsi waktu belajar dengan bijak. Terkadang kita akan menekankan waktu belajar saat pelaksanaan Ujian Nasional semakin dekat sehingga terkadang waktu belajar yang lama bisa memunculkan perasaan yang stres maka dari itu porsi belajar harus ditentukan dengan bijaksana agar hal yang buruk/negatif bisa dihindari.

Terakhir yaitu, coba pergi bersantai atau refreshing ketempat yang tenang dan indah agar bisa mengembalikan level pikiran kita ketingkat alpha (rileks dan santai).

Namun, usahakan pilih saja lokasi/destinasi liburan yang dekat dan tidak berbahaya. Hal tersebut untuk mengantisipasi kemungkinan yang tidak diinginkan.

Terdapat banyak cara atau tips untuk menghilangkan rasa stres menjelang Ujian Nasional, semuanya tergantung kepada pribadi masing-masing.

Motivasi diri juga perlu dalam menghadapi Ujian Nasional. Motivasi dapat memberikan dorongan semangat belajar pada siswa untuk menempuh ujian nasional dengan menorehkan prestasi.

Hal ini sesuai dengan teori Need for Acievement (N.Ach) yang dikemukakan oleh Mc. Clelland, seorang ahli psikologi yang menyatakan bahwa motivasi berbeda-beda sesuai dengan kekuatan kebutuhan seseorang akan prestasi. Oleh karena itu, dibutuhkan dorogan motivasi agar siswa memiliki semangat untuk meraihnya.

Orang tua berperan penting sebagai agen sosialisasi paling utama untuk memberikan motivasi pada anaknya. Orang tua dapat memberikan arahan dan gambaran masa depan pada anak untuk menumbuhkan semangat belajar.

Selain itu, orang tua bertanggung jawab memberikan suasana rumah yang harmonis sehingga tidak mengganggu kondisi psikologis anak. Orang tua juga dapat menerapkan pola partisipatoris yaitu memberikan imbalan pada anak atas hasil prestasi yang diraihnya.

Kita harus yakin bahwa kita adalah bagian dari kesuksesan. Belajar harus disegerakan karena untuk meraih kesuksesan dibutuhkan pengorbanan.

Hal lain yang juga penting adalah menjadikan semua kegiatan yang dilakukan merupakan kegiatan yang menyenangkan bukan menjadikannya sebagai beban.

Tetap percaya diri dengan usaha yang telah kita lakukan. Ujian Nasional bukan segalanya tentang tes akademik. Melainkan kejujuran, mental serta kerja keras merupakan salah satu unsur yang tidak bisa kita tinggalkan.

So, You are ready to USBN and UNBK 2020? Just say we are ready!

**Siswi Sosioliterasi SMAN 1 Manggar, Belitung Timur.

Editor: jb11