Beltim Youth Center Tolak Isolasi Mandiri 14 Hari dan Desak Pemkab Belitung dan Beltim Bangun Fasilitas Isolasi

oleh -
Beltim Youth Center Tolak Isolasi Mandiri 14 Hari dan Desak Pemkab Belitung dan Beltim Bangun Fasilitas Isolasi
Tim BYC saat melakukan rapat pencegahan Covid 19 di Posko Terpadu Join Coffee. Foto: BYC for Jabejabe News.

SIMPANG PESAK, JABEJABE.co – Menyikapi kebijakan isolasi mandiri selama 14 hari oleh Kabupaten Belitung dengan ini Beltim Youth Center menyatakan sikap tidak setuju dengan kebijakan tersebut.

Ketua Beltim Youth Center (BYC), Anjas Ansari mengungkapkan, walaupun sesungguhnya yang lebih tepat untuk berbicara protes terhadap Pemerintah Kabupaten Belitung adalah masyarakat Kabupaten Belitung.

“Tetapi, dalam perihal ini kami (BYC) Masyarakat Kabupaten Belitung Timur (Beltim) merasa wajib melakukan protes. Karena bagaimana pun kebijakan dua Kabupaten untuk tidak berjuang menuntup arus penumpang atau menyiapkan fasilitas isolasi oleh kedua Pemerintah Kabupaten tetap akan memperbesar resiko masuknya Pandemi Covid-19 ke Kabupaten Belitung Timur,” ujarnya.

Sikap tidak setuju tersebut didasari oleh berbagai pertimbangan, antara lain :

1. Tingkat kesadaran masyarakat yang masih lemah, dan itu terbukti dengan masih banyaknya masyarakat yang keluar dari rumah dan tidak mengisolasi diri.

Sekedar contoh, himbauan untuk tidak menambang di Sungai dan HL itu seharusnya dijadikan tolak ukur untuk menakar tingkat kedisplinan masyarakat.

2. Pengawasan yang minim di mana jumlah satuan tugas tidak mencukupi jika dibandingkan dengan jumlah masyarakat yang masuk ke Belitung.

Menurut data yang diterima dalam tiga hari terakhir, lebih dari 1000 orang yang masuk ke Belitung. Jika masalah pengawasan ini kembali diserahkan ke masyarakat yang tingkat kedisiplinannya rendah, berarti pemerintah lepas tangan untuk tidak memenuhi hak masyarakat seperti yang tercantum ada amanah UUD 45 yaitu “Setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal, dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan”.

3. Fasilitas RSUD dan kesiapan tenaga medis yang minim jika terjadi lonjakan PDP yang harus diisolasi. Jika kita buat simulasi terburuk, apakah jumlah fasilitas isolasi kita mencukupi? dokter spesialis yang kita miliki mencukupi? apakah jumlah perawat kita mencukupi? apakah mental tenaga medis kita siap?.

Atas pertimbangan tersebut kami menyarankan untuk menempatkan nyawa masyarakat di atas segala-galanya dengan mengambil kebijakan sebagai berikut :

1. Mendesak Pemerintah Pusat untuk segera mengambil keputusan menghentikan arus penumpang baik melalui darat dan udara. Dan kemudian mempersiapkan segala fasilitas kesehatan, tenaga pengamanan, dan ketahanan pangan dalam menghadapi skenario terburuk.

Baca Juga:  Pernah Keluhkan Mau Mati, Nenek Asal Air Saga Ditemukan Tewas Posisi Gantung Diri

2. Kebijakan isolasi mandiri 14 hari dirubah menjadi isolasi yang difasilitasi. Di mana kedua Kabupaten mempersiapkan fasilitas isolasi dengan menggunakan gedung-gedung olahraga atau gedung-gedung lainnya yang ada di 2 (dua) Kabupaten. Menyiapkan fasilitas isolasi untuk ODP ini lebih mudah ketimbang menyiapkan fasilitas isolasi untuk PDP.

Kemudian kedua kabupaten membuat Perbup yang mana setiap orang yang masuk ke Pulau Belitung harus diisolasi di fasilitasi yang disiapkan oleh Pemerintah Daerah dengan biaya sendiri. Bagi siapa saja yang tidak patuh, maka wajib untuk segera meninggalkan Pulau Belitung.

3. Jika Pemerintah Kabupaten Belitung keberatan atas saran di atas dan hanya Pemerintah Kabupaten Belitung Timur yang menyanggupi, maka kami mendesak kepada pemerintah Kabupaten Belitung Timur untuk menutup pintu masuk arus manusia antar Kabupaten, dan menutup arus masuk dari Pelsus yang ada di Kabupaten Belitung Timur. Kemudian mempersiapkan segala fasilitas kesehatan, tenaga pengamanan, dan ketahanan pangan dalam menghadapi skenario terburuk.

4. Jika pertimbangan Kedua Kabupaten untuk tidak menghentikan karena khawatir tidak ada pesawat yang akan membawa sample swab dikarenakan rapid test sekarang jika hasil positif harus dites swab lagi. Maka kami menyarankan untuk menyewa pesawat jet charter, di mana pembiayaan ditanggung oleh kedua Kabupaten. Mengingat untuk Pariwisata saja kita sanggup untuk Share Cost, apalagi untuk urusan kemanusian. Dari estimasi yang kami hitung setiap penerbangan itu butuh biaya Rp. 210.000.000,-. Jika dalam satu bulan masa karantina yang kita tetapkan, hanya butuh Rp. 840.000.000,- untuk 4 (empat) kali penerbangan dalam satu bulan dan itu dibagi untuk dua kabupaten.

Untuk para pemimpin di kedua Kabupaten, kami mengingatkan akan ada konsekuensi hukum jika Pemerintah daerah dianggap tidak tanggap dan cakap dalam menghadapi Pandemi-Covid 19 ini. Oleh karena itu mari kita berjuang bersama-sama. Kami siap untuk dirumah saja, tapi tolong perjuangkan dengan sungguh-sungguh nyawa kami, nyawa para team medis agar tetap memiliki harga.

 

Editor: Subrata
Sumber: Humas Beltim Youth Center

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news dari jabejabe.co. Yuk gabung di Grup Telegram Jabejabe.co News Update, caranya klik link Jabejabe.co News Update kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *