Salam Kenal dari Bang Berahim dan Teh Panas Rp.5000,-

oleh -
Berahim - JABE 001 - Salam Kenal dari Bang Berahim dan Teh Panas 5000

JANGAN ANGGAP BECAKAP ENTENG – “Berahim!” Begitu panggilan orang kampung. Ia adalah lelaki berparas aneh bin nyeleneh. Terutama giginya yang tak rata dan banyak yang bolong-bolong, seperti Pulau Belitong yang bolong-bolong jika dilihat dari kacamata burung karena bekas eksplorasi penambangan timah.

Hmmm…. Kan kiape la mun macam ini ne?! (Mau bagaimanakah jika sudah seperti ini?!)

Rambut Bang Berahim ini mirip Superman, ada huruf “S” di jidat namun kembar tak jelas. Sama dengan wajahnya juga tak jelas, karena alisnya yang suka naik-turun tak karuan. Khusus pada bagian kiri yang hampir setiap 5 detik sekali bergetar, hilang kendali, karena pernah terjadi insiden terkena batu peletikan kala SD.

Kecelakaan ini terjadi ketika A’im (panggilan kecil Berahim) sedang memasang pulut di dahan pohon kemang.

Na’as! Nak meletik kera’, ternyata manusie no’ kena’. Haha. Berahim pun terjatuh dengan kepala membentur batu. Mungkin itulah yang membuat Berahim bertingkah konyol dari masa ke masa. Hehe..

Di sekitar wilayah mulut pria ini memiliki kumis tipis dengan sedikit janggut di bawah bibir dan janggut gersang di dagu. Ada pula tahi lalat berambut di area bawah mulut, mirip sumbu petasan. Ddduuaaarrr!!! Kehadirannya selalu bikin heboh seantero RT hingga dusun kampong, bahkan antarkampong.

“Jabe-jabe, la datang pulak abang ini. Kan ngerapik ape pulak die sarine!” begitu ungkap warga yang spontan ketika melihat kemeja antik nan unik andalannya dari kejauhan.

Rambut lelaki yang gemar bermain game online ini begitu licin, karena sering memakai pomade. Ya, pomade klasik “tancho”, dengan baunya yang begitu khas. Lelaki era 90-an pasti familiar dengan itu. Mungkin sedikit berbau tengik kata anak remaja era milenial saat ini.
Memakai sandal cokhai adalah atribut wajib abang penyuka permen “jamin” jadul ini. Dengan gaya jalan agak mengangkang, ia datang ke sebuah warung di seputaran wilayah Manggar hari ini.

Berahim : “Bang, ade jual teh ke de sinek?”

Penjual : “Ade be. Nak nok panas ape dingin? Mun panas 5.000, mun nok dingin ne 7.000.”

Berahim : “Emmm, yang panas la bang.”

Jeda beberapa waktu, azan zuhur pun tiba, dan teh panas pun sudah tersedia.

Berahim : “Alhamdulillah…“

Wajah sumringah Berahim tampak kala teh yang diinginkannya datang.

Berahim: “Aduhhh panaaas!!”

Penjual : “Santai boi, detunggu duluk biar dingin. Namba tebal kini biber kauu!”

Sambil memegang bibirnya, si Berahim menjawab.

Berahim : “Dak usa la bang. Biarla. Kini teh aku ne jadi 7.000.”

Penjual : “Jaberrr…!” (logat Sijok).

 

GLOSARIUM
Peletikan: Ketapel
Pulut: Perangkap burung berupa lidi yang dilumuri lem
Meletik: Menembakkan sesuatu dengan ketapel
Manusie: Manusia
No’: Yang
Jabe-jabe: Ungkapan perasaan kaget dengan sesuatu
Boi: Sapaan akrab kepada lelaki (biasanya untuk anak lelaki, untuk teman dekat atau orang yang sudah saling kenal)
Biber: Bibir
Jaber: Ungkapan perasaan terkejut karena senang, kesal, marah, dsb.
Cokhai: Sandal sepatu dari ban motor yang asal-muasalnya dari Tiongkok: Mun bejalan de rimba’ aman mun makai (Kalau berjalan di hutan rimba akan aman kalau beralas cokhai).

 

Penulis: Faujian Ares
Ilustrator: Robin_Origin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *