Bahaya Kratom 13 Kali Lebih Ganas dari Ganja? Ini Penjelasan BNN Belitung

oleh -
Bahaya Kratom 13 Kali Lebih Ganas dari Ganja, Ini Penjelasan BNN Belitung (1)
Ilustrasi Kratom, Foto: samudranesia.id

TANJUNPANDAN, JABEJABE.co – Kratom, tanaman dengan nama latin Mitragyna Speciosa adalah pohon tropis yang masuk dalam family kopi. Umumnya ada di Thailand, Myanmar, Malaysia, dan negara-negara Asia Selatan lainnya. Namun demikian, tanaman ini kini jadi perbincangan karena kontroversinya di bidang kesehatan.

Badan Nasional Narkotika (BNN) melarang penggunaan Daun Kratom sebagai suplemen makanan dan obat tradisional. Sebab, dampak dari konsumsi Kratom menyebabkan efek yang tidak baik.

Bahkan, menurut kesepakatan ASEAN 2020, Kratom diharamkan di kawasan ASEAN. Oleh karenanya mengapa Borneo hanya mengekspor Kratom ke Amerika Serikat.

Setiap ada penyelundupan Kratom di Kawasan ASEAN, Kepala BNN Republik Indonesia selalu mendapatkan teguran, seolah-olah Indonesia ingin meracuni Asean dengan Kratom. Karena itulah Kratom dilarang.

Bahkan, bagi siapa saja pihak yang menggunakan kratom untuk obat atau campuran lainnya akan dijerat hukum.

Kasi Rehabilitasi BNN Kabupaten Belitung, Andi Kustiawan menjelaskan latar belakang larangan penggunaan Daun Kratom menyebabkan efek samping yang buruk.

“Karena efek samping penggunaannya (Kratom) 13 kali lebih ganas dari ganja,” terangnya.

Karena efek samping yang sangat berbahaya inilah menjadi penyebab mengapa BNN paling keras bersikap, bahwa Kratom ini adalah Narkoba.

“Daun Kratom ini berbahaya bagi kesehatan sehingga jika digunakan dengan dosis rendah akan menyebabkan efek stimulan atau sama seperti kokain. Sementara itu penggunaan dalam dosis tinggi bisa menyebabkan Depresan. penggunaan jenis besar bersifat opioid atau sama seperti morfin heroin.” Jelas Andi.

Dalam tingkat tertentu, lanjut Andi, penggunaan daun kratom dapat menyebabkan keracunan, kerusakan hati atau ginjal, pembengkakan otak, henti jantung, koma, dan bahkan kematian.

“Belum lagi penggunaan kratom secara bersamaan dengan obat-obatan atau suplemen tertentu juga dapat menimbulkan efek interaksi obat,” imbuhnya.

Jadi, lanjut Andi, di Kawasan ASEAN belum boleh, dan sekarang masih disusun regulasinya supaya masuk seperti Tembakau Gorilla.

“Sekarang ini kan kalau untuk Tembakau Gorila sudah masuk regulasinya di UU Narkotika. Nanti, untuk kratom juga demikian, akan dimasukkan ke UU Narkotika,” ujarnya, “Kalau sekarang ini kan memang masih banyak kucing-kucingan.”

Namun demikian, Andi juga menyarankan jangan hanya kratom yang disorot, karena bahan adiktif lain seperti Komix, Metril, Perekat Aica Aibon juga paling banyak didapati setelah screening oleh BNN.

“Anak-anak usia belasan justru banyak menggunakan barang adiktif itu,” bebernya.

Karenanya selaku Kasi Rehabilitasi BNN Kabupaten Belitung ia menghimbau kepada orang tua untuk lebih care (Peduli) dan lebih terbuka kepada anak.

“Jangan sibuk sendiri, karena sesekali anak perlu diawasi. Terutama pergaulan anak, jangan sampai salah, “saran Andi, “Dan, penyalahgunaan ini banyak dilakukan anak usia belasan.”***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *