Area Pencaharian Nelayan Rusak, Warga Sukamandi Demo Ponton Isap di Pelabuhan Acang

by -
Area Pencaharian Nelayan Rusak, Warga Sukamandi Demo Ponton Isap di Pelabuhan Acang (2)
Suasana demo ponton isap jenis rajuk oleh masyarakat nelayan Sukamandi terhadap aktifitas penambangan timah di Pelabuhan Acang, Desa Sukamandi, Kecamatan Damar, Senin (5/10/2020). Foto Subrata/ jabejabe.co

Para Penambang Siap Pindahkan Ponton ke Area IUP PT.Timah

DAMAR, JABEJABE.co – Masyarakat Desa Sukamandi Kecamatan Damar Kabupaten Belitung Timur, khususnya para nelayan melakukan aksi protes terhadap keberadaan ponton isap rajuk di Pelabuhan Acang, Kecamatan Damar, Senin (5/10/2020).

Aksi protes yang berlangsung sejak pukul 09.07 WIB tersebut diawali dengan adu mulut antara masyarakat nelayan Sukamandi dan para penambang yang sebagian berasal dari masyarakat lokal.

Melihat ponton-ponton isap bersandar di pingiran mangrove, masyarakat nelayan Sukamandi sempat emosi hingga terbersit keinginan untuk membakar ponton. Namun hal tersebut dihalangi oleh Kepala Desa Sukamandi, Sartono dan personil Polres Beltim.

Kondisi ricuh tersebut berlangsung sekitar 10 menit. Namun dari pembicaraan singkat antara penambang dan masyarakat yang dimediasi Kades Sukamandi, kedua pihak sepakat agar penambang segera memindahkan ponton ke wilayah IUP PT.Timah, yakni di Kolong Anyin dan Pulau Kambing.

Saat dimintai keterangan Sartono menyebutkan, dengan adanya kegiatan ponton isap di Pelabuhan Acang, mempengaruhi mata pencaharian masyarakat nelayan Desa Sukamandi.

“Jadi mereka merasa terganggu, dan pada hari ini mereka mengadakan aksi. Kemudian sesuai dengan kesepakatan kita selaku pemerintah desa dengan pemilik ponton, supaya mereka menarik ponton ke dalam IUP PT Timah,” ujarnya.

Menurut Sartono, kegiatan ponton isap di Pelabuhan Acang menyalahi aturan karena daerah tersebut sudah termasuk dalam hutan lindung pantai (HLP). Selanjutnya, imbuh Sartono, pihak nelayan dan penambang TI Rajuk akan membuat kesepakatan di kantor Desa Sukamandi.

“Nanti akan kita buat kesepakatan dengan pemilik ponton di kantor desa, nanti mereka (penambang) akan kita panggil ke kantor desa,” jelasnya.

Terkait dengan kejadian ini Kades Sukamandi menghimbau kepada penambang yang ada di aliran sungai atau pun HLP supaya jangan melakukan aktivitas penambangan, karena selain bertentangan dengan hukum, diharapkan tidak terjadi gesekan antara penambang dan masyarakat nelayan.

Sehubungan protes warga Sukamandi, mewakili pihak penambang, Yono (50), menyebutkan pihaknya komitmen untuk pindah ke wilayah IUP pada hari ini juga, Senin (5/10/2020).

“Apa boleh buat, kita kembalilah (ke Pulau Kambing/ Kolong Anyen),” tukasnya.

Lebih lanjut diakui Yono, keberadaan mereka di Pelabuhan Acang sudah berlangsung sekitar dua minggu. Menurutnya, kepindahan mereka dari Pulau Kambing dikarenakan daerah tersebut, yakni Kolong Anyen dan Pulau Kambing sudah tidak ada timah.

Yono menilai, kalau cerita masalah mangrove, Tuhan menciptakan harta karun timah untuk umat manusia. “Mau di bawah bakau/ mangrove, mau di laut, kalau bukan untuk umat manusia untuk siapa? Namanya juga untuk menafkahi hidup,” ujar Yono.

Saat ditanya siapa pemilik ponton-ponton isap tersebut, menurut Yono pemiliknya adalah masyarakat sekitar diantaranya dari Damar, Mempaya dan Manggar. Namun Yono enggan menyebutkan satu-satu nama pemiliknya.

Yono pun berharap ke depan pemerintah melihat kondisi masyarakat dan mencari solusi untuk masyarakat dalam keadaan susah seperti saat ini.

Selaku penambang, Yono mengaku bingung, pasalnya dulu Pelabuhan Acang adalah area bekas penambangan timah dengan kapal keruk. Kalau memang di sisi lain ada kepentingan, menurut Yono penambang juga ada kepentingan, sama-sama ada kepentingan dan sama-sama mencari hidup.

“Kalau ada di darat, tidak mungkin kita ambil timah di sini (area Pelabuhan Acang). Jadi, bukan masalah salah benar, kita cari jalan tengah, yang penting kita tidak nyuri, kita kerja dengan keringat,” pungkasnya. (jb)

Editor: sue