Alkisah di Balik “Payong Kerak Nasik Penganten” di Selat Nasik

oleh -
Alkisah di Balik “Payong Kerak Nasik Penganten” di Selat Nasik (2)
Kik Bahani dan Payong Kerak Nasik Penganten

JABEJABE.co – Suatu waktu, hujan lebat mengguyur Selat Nasik sehari sebelum dilangsungkan acara begawai (Resepsi pernikahan). Sang tuan rumah sudah khawatir besok akan hujan.

Kekhawatiran ini kemudian membuat tuan rumah berniat melakukan sesuatu jika besok tidak hujan.

Mun isok dak ujan, ari terang benderang, make penganten kan depayong’ek kun kerak (Kalau besok hari tidak hujan, maka kedua manten akan dipayungi dengan payung kerak),” ujar tuan rumah berniat.

Sebagaimana diketahui kerak adalah nasi yang keras dan hangus yang melekat pada dasar periuk.

Ternyata esok hari tak hujan, dan niat tersebut pun dijalankan si tuan rumah yaitu memayungi penganten anaknya dengan “Payong Kerak” atau Payung Kerak Nasik Penganten.

Cerita di atas sebagaimana dituturkan Kik Bahani, budayawan di Selat Nasik.

Konon, tidak banyak yang bisa membuat payung kerak, karena memerlukan pengalaman dan perlu keahlian khusus. Dan, Kik Bahani juga merupakan penanak nasi saat acara begawai serta piawai membuat payung kerak dan sudah menjadi kegiatan beliau saat ada resepsi pernikahan di Selat Nasik.

Adapun di kemudian hari adanya pemaknaan Payong Kerak Nasi Penganten sebagai penangkal hujan, tidak dibahas di sini, dan dikembalikan ke pemaknaan masing-masing.

Hingga saat ini, jika ada acara begawai di Selat Nasik, tak jarang terlihat payung kerak. Salah satu kearifan lokal yang perlu dilestarikan.

Dokumentasi Kik Bahani sebagaimana yang ditampilkan dalam tulisan ini merupakan bentuk penampilan budaya yang diperagakan dalam acara Maras Tahun di Selat Nasik pada tahun 2016.

Selain Payong Kerak Nasik Penganten, keunikan lain pada budaya pernikahan di Selat Nasik adalah adanya Tandu Sejoli bagi penganten pria dan adat makan panganten Jok Pahar bagi penganten, laiknya raja dan permaisuri.

Konsep pernikahan yang unik ini menjadi kekayaan serta keunikan yang dimiliki masyarakat Selat Nasik. Dan, tidak ada budaya yang sama sebagaimana di Belitung.

Kita berharap keunikan ini tetap lestari dan menjadi nilai tambah tersendiri bagi keanekaragaman budaya di Pulau Belitong.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *