Akui Banyaknya SKT Terbit di Kawasan Hutan Konservasi, Begini Kata Kades Aik Rayak

by -
Akui Banyaknya SKT Terbit di Kawasan Hutan Konservasi, Begini Kata Kades Aik Rayak (2)
Rustam Ludin

TANJUNGPANDAN, JABEJABE.co – Kepala Desa Aik Rayak, Rustam Ludin, akui ada sejumlah Surat Keterangan Tanah (SKT) yang terbit pada Kawasan hutan Konservasi di desanya, Jumat (1/5/2020).

Pengakuan tersebut diungkapkannya ketika jabejabe.co mengkonfirmasi terkait munculnya SKT dengan Nomor : 041/SKT/C.01/IX/AR/2019, seluas kurang lebih 19.700 meter persegi yang terletak di Jalan Murai Dalam RT034/011 Dusun Air Raya Timur I Desa Aik Rayak, Tanjungpandan dengan berinisial HR (45) yang merupakan warga Jalan Pemuda Desa Aik Rayak.

Dalam SKT tersebut tertulis sebelah utara berbatasan dengan Jalan Murai Dalam (100 m), lalu sebelah Timur berbatasan dengan Tanah Heri Damanik (200), untuk sebelah Selatan berbatasan dengan saluran air (97 m), sedangkan sebelah Baratnya berbatasan dengan tanah milik Asnawi (200).

Dikatakan Rustam, setelah terbit SKT milik HR ini, barulah diketahui masuk dalam kawasan Hutan Konservasi yang diakuinya harusnya tidak térjadi hal tersebut dan saat ini tengah proses pencabutan untuk SKT milik HR ini.

“Benar itu masuk kawasan makanya ini prosės pencabutan. Karena jelas dalam poin 6 di SKT itu ada berbunyi apabila di kemudian hari terdapat dokumen pertanahan (sertipikat, SKT, dab atau surat keterangan tanah lainnya yang sah), di lokasi kawasan hutan Negara dan IUP yang terbit terlebih dahúlu di lokasi tersebut, maka SKT ini dicabut dan akan dinyatakan tidak berlaku,” jelas Rustam, baru-baru ini.

Namun ketika disinggung bagaimana tentang pencabutan SKT yang lain, yakni yang berbatasan dengan SKT milik HR tersebut, Kades mengelak dengan tidak tahu akan nama siapa pemilik dari tanah yang berbatasan di sebelah Timur dan Barat tersebut. Padahal jelas orang yang namanya berbatasan dengan tanah milik HR tersebut merupakan warganya di Desa Aik Rayak.

“Asnawi dan Heri itu warga desa sini tapi aku tidak tahu orangnya yang mana, mau dicabut tapi saya tidak tau orangnya, Asnawi mana Heri mana. Surat mereka belum dicek, saya tidak tahu arsipnya. Tapi jaman aku menjabat tidak ada itu (tanda tangan), tapi kalau sudah dicek dari Kehutanan bisa saja masuk itu,” katanya.

Selain itu, ia bahkan mengakui bawasannya masih ada banyak tanah yang diterbitkan SKT di Kawasan Hutan konservasi tersebut, namun saat ini ia sebagai pemerintah desa hanya menunggu jika ada si pemilik tanah melakukan pengajuan APH untuk dijual dan atau menaikan dari SKT ke sertifikat, baru dilakukan pencabutan SKT tersebut.

“Surat itu sudah lama dan saya tidak tahu yang punya itu siapa. Tapi kenyataannya memang ada banyak surat di situ,” tukasnya.

Reporter: fg6
Editor: jb02