Aktivisme Medsos

oleh -
Aktivisme Medsos

Oleh: Muhammad Anugrah*

DALAM kehidupan praktis di era digitalisasi modern saat ini, banyak hal-hal yang dapat dilakukan secara mudah dan praktis melalui media sosial (Medsos). Medsos yang merupakan wadah atau platfom komunikasi yang mempermudah orang untuk berkomunikasi tanpa harus betatap muka.

Salah satu kegiatan yang sering dan ramai dilakukan di Medsos ketika muncul suatu isu atau permasalahan adalah “aktivisme”.

Aktivisme merupakan gerakan yang bertujuan untuk membawa perubahan sosial atau politik. Seringkali, gerakan seperti itu adalah argumen untuk melawan. Aktivisme sering dikaitkan dengan demonstrasi, dan lain-lain. Tetapi, aktivisme juga dapat mengambil bentuk kampanye politik, boikot, pemogokan, dan taktik gerilya.

Transformasi gerakan aktivisme yang seharusnya dilakukan secara langsung dengan membentuk suatu gerakan untuk mencapai tujuan bersama, dapat juga dilakukan secara digital melalui Medsos. Ruang ruang Gerakan aktivisme dalam Medsos merupakan cara baru dalam memperjuangkan hak-hak masyarakat, mengkritik kebijakan, demonstrasi, dan sampai pada framing isu dan mobilisasi massa.

Selain gerakan perlawanan terkait masalah atau kebijakan, aktivisme juga dilakukan dalam bentuk konten-konten konstruktif dan informatif.

Di kalangan mahasiswa, aktivisme menjadi momentum dalam membangun sebuah gerakan digitalisasi, ada banyak sekali gerakan-gerakan aktivisme yang pernah dilakukan oleh mahasiswa baik di kancah nasional dan internasional.

Pada tahun 2020, media sosial pernah dihebohkan dengan munculnya tagar #blacklivesmater, tagar tersebut merupakan salah satu bentuk gerakan aktivisme yang terjadi di Amerika Serikat mengenai gerakan dalam melawan rasisme dan diskriminasi terhadap orang kulit hitam.

Sebenarnya gerakan Black Lives Mater sudah diinisiasikan sejak 2013 silam, namun pada tahun 2020 merupakan ajang momentum perlawanan di seluruh dunia dalam melawan rasisme dan diskriminasi terhadap orang kulit hitam.

Gerakan tagar tersebut mengundang massa media sosial di seluruh dunia, bahkan artis-artis dunia juga banyak menggunakan tagar tersebut sebagai bentuk ajakan perlawanan terhadap diskriminasi dan rasisme terhadap orang kulit hitam.

Di kancah nasional, Ketika RUU cipta kerja menjadi bahasan pemerintah di DPR, mahasiswa dan publik pada saat itu ramai-ramai mengkaji isu bagaimana pengaruh RUU cipta kerja tehadap masyarakat dan elemen lainnya. Ada banyak elemen masyarakat yang akan dirugikan dari hasil kajian tersebut dan memancing gerakan perlawanan untuk menolak RUU cipta kerja tersebut.

Baca Juga:  Pilkada dan Bencana Covid-19

Dikutip dari Jakarta, IDN Times – Jagat dunia maya, khususnya Twitter diramaikan tagar, berbagai tagar terkait penolakan terhadap RUU Cipta Kerja.

Bahkan, tagar yang berkaitan dengan topik itu semakin meluas usai RUU Cipta Kerja disahkan menjadi Undang-Undang, setelah disepakati dalam pengambilan keputusan tingkat II dalam rapat paripurna DPR RI pada tanggal 10 Oktober 2020.

Hal itu memancing publik melakukan gerakan perlawanan terhadap RUU cipta kerja tersebut dan memancing gerakan aksi solidaritas menolak omnibuslaw di Medsos.

Medsos diramaikan dengan tagar #tolakomnibuslaw. Bukan hanya #tolakomnibuslaw saja yang bergema di media sosial, tagar-tagar lainnya juga bermunculan seperti #mositidakpercaya #dprhianatirakyat #dewanpenghianatrakyat.

Gerakan gerakan aktivisme di media sosial bukan hanya gerakan yang berkaitan dengan politik saja, ada banyak gerakan-gerakan lainnya seperti aksi solidaritas kemanusiaan, gerakan lingkungan, gerakan lindungi alam, serta ada banyak sekali gerakan lainnya.

Medsos merubah paradigma, bahwa dari gerakan yang dilakukan secara langsung menjadi aksi solidaritas di media sosial yang dapat berpengaruh terhadap kebijakan pemerintah.

Bisnis Politik dan Aktivisme di Medsos

Munculnya media sosial dan teknologi yang berkembang pesat saat ini merubah tatanan kehidupan masyarakat kita, tidak terkecuali di bidang politik. Hadirnya media sosial di memberikan pengaruh yang sangat besar pada struktur politiik, dimulai dari sosialisasi politik sampai pada penguatan citra politik dan legitimasi seorang actor politik.

Namun terkadang media sosial juga menjadi ajang terciptanya kehidupan politik praktis di kalangan anak muda.

Sampai pada saat ini, perkembangan politik di media sosial sangat berkembang pesat, kemudahan dalam memberikan akses informasi dan mendapatkan informasi politik dapat dilakukan secara mudah dan kapan saja.

Politik di Medsos memberikan keuntungan dan kerugian terhadap masyarakat.

Di sisi lain, Keuntungan dari politik di media sosial diantaranya memudahkan penyebaran informasi dan mendapatkan informasi politik, jangkauan informasi yang luas, mudah dan praktis, biaya yang murah, dan dapat dilakukan kapan saja dan di mana saja.

Dikutip dari jurnal Komunikasi Politik di Era Media Sosial (Faridhian Anshari, 2013), Keberhasilan menggunakan media sosial dipandang sebagai salah satu faktor kesuksesan Barack Obama memenangi pemilihan presiden Amerika Serikat. Sekitar 30 persen pesan-pesan kampanye Obama disampaikan melalui media baru (media sosial).

Baca Juga:  Mengerit dan Mengecer BBM Dipidana Jika . . .

Selain memberikan dampak yang positif terhadap politik, namun media sosial dapat menciptakan situasi politik yang praktis dan informasi yang luas dan menyebar secara mudah dan cepat sehingga dapat menciptakan informasi yang tidak benar (Hoaks).

Berdasarkan data temuan (KOMINFO), total jumlah hoax yang berhasil didapatkan oleh mesin AIS yang kemudian diidentifikasi, diverifikasi dan divalidasi oleh Kominfo menjadi 1.731 hoax terhitung sejak Agustus 2018 sampai dengan April 2019.

Dari total 1.731 hoax sejak Agustus 2018 hingga April 2019 yang diidentifikasi, diverifikasi dan divalidasi oleh Tim AIS Kemekominfo, hoax kategori politik mendominasi di angka 620 item hoax. Disusul 210 hoax kategori pemerintahan, 200 hoax kategori kesehatan, 159 hoax terkait fitnah, 113 hoax terkait kejahatan dan sisanya hoax terkait isu agama, bencana alam, mitos, internasional dan isu lainnya.

Media sosial juga memunculkan bisnis baru di bidang politik mengenai bagaimana transaksi politik dapat dilakukan secara media sosial. Transaksi yang dimaksud adalah bagaimana proses mendapatkan suatu legitimasi atau jabatan melalui promosi media sosial.

Politik Medsos juga memunculkan istilah-istilah baru seperti mafia politik. Mafia politik dapat diartikan sebagai sekelompok individu yang berkaitan dengan tujuan politik tertentu, baik itu menjurus ke arah yang baik dan buruk.

Penamaan mafia politik juga dapat diartikan sebagai sekelompok orang atau individu yang melakukan Tindakan yang berkaitan dengan tujuang politik teretentu. Salah satu contoh transaksi mafia politik adalah bagaimana menjatuhkan lawan politik, menjatuhkan image aktor politik, bahkan sampai pada black campaign atau kampanye hitam.

*) Mahasiswa Fakultas Hukum UBB
Dapatkan update berita pilihan dan breaking news dari jabejabe.co. Yuk gabung di Grup Telegram Jabejabe.co News Update, caranya klik link Jabejabe.co News Update kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.