17.000 Mangrove Ditanam, Hanya 80an yang Tumbuh di Trafo Mayang Damar, Kok Bisa?

by -
17.000 Mangrove Ditanam, Hanya 80an yang Tumbuh di Trafo Mayang Damar, Kok Bisa (2)
Kondisi pohon mangrove yang sudah ditanam di area Trafo Mayang, Desa Sukamandi, Kecamatan Damar, Kabupaten Belitung Timur, Minggu (9/5/2021). Foto: sue/ jabejabe.co.

Penulis: Sue | Editor: Subrata Kampit

JABEJABE.co – Perkara reklamasi di lahan eks tambang bisa jadi hal yang lumayan rumit. Baik itu rumit dalam konsep maupun realisasinya, setidaknya itu hipotesis jabejabe.co usai mengunjungi area eks tambang yang pernah ditanami bibit mangrove di Desa Sukamandi, Kecamatan Damar, Kabupaten Belitung Timur, Minggu (9/5/2021) sekira pukul 12.38 WIB.

Dalam kesempatan mengecek bibit mangrove tersebut, jabejabe.co sebetulnya menemani Yudi Amsoni alias Yudi Senga yang merupakan Ketua Komunitas Akar Bakau.

Belum sampai ke area penanaman bibit mangrove, jabejabe.co melihat situasi eks tambang yang kembali dieksploitasi di lahan yang sudah pernah direklamasi. Area yang terletak di Desa Sukamandi itu disebut Jambu Bulok, karena memang tanaman yang digunakan untuk mereklamasi oleh PT Timah adalah jambu mente, yang orang Belitung menyebutnya Jambu Bulok.

Kini, pohon jambu bulok jarang ditemukan di area luar (Tepi jalan aspal). Namun ternyata, barisan rapi tanaman jambu ini bisa ditemukan setelah lebih dalam memasuki kawasan itu, yah sekitar 300 meter dari jalan aspal.

Tujuan jabejabe.co bersama Yudi Senga adalah memasuki kawasan hutan lindung yang pernah ditanami bibit mangrove. Saat memasuki area hutan lindung tersebut, bunyi mesin ponton isap sudah terdengar dari jauh. Laiknya ada “pesta” di kawasan itu. Sekira 10 ponton sedang beroperasi.

Ternyata, area penanaman mangrove tersebut persis di tepi danau (Terbuat karena aktifitas tambang). Dan tentu saja mangrovenya sudah tak subur, bahkan banyak yang mati. Setelah dihitung, hanya sekitar 20 pohon yang bertahan hidup, dari 500 bibit yang ditanam.

Kegiatan penanaman pada 17 Februari 2021 itu Yudi lakukan bersama-sama dengan siswa-siswi SMP 1 Damar dan, SMA 1 Damar, Kepala KPHP Gunung Duren, Pengurus Fordas Beltim, Dinas Perikanan, serta pihak-pihak lainnya.

Menurut Yudi, saat penanaman itu berlangsung, aktifitas pertambangan di area hutan lindung tersebut sudah tak banyak, dan lokasinya pun cukup berjarak.

“Pada saat kita datang dan melakukan penanaman bibit mangrove (di kawasan Hutan Lindung), masih ada sih yang beroperasi, tapi tak banyak, dan saat itu mesinnya dimatikan pas kita datang,” kata Yudi.

Jika ditanya apakah Yudi kecewa karena tumbang dan matinya bibit mangrove yang ditanam? Jawabannya pasti kecewa. Namun ternyata Yudi bukan sosok penyelamat lingkungan jenis kaleng-kaleng, ia pantang padam.

Kami pun kemudian melanjutkan peninjauan ke wilayah penanaman mangrove di area Trafo Mayang atau Jeramba Plat. Di daerah ini, menurut Yudi dirinya bersama rekan-rekan sudah melakukan penanaman sedikitnya 17.000 bibit mangrove dalam tiga tahap. Nasib bibit ini pun sama, tumbang.

Di area Trafo Mayang itu kini hanya tersisa paling banyak 80 bibit mangrove (dari 17.000 bibit yang sudah ditanam). Di Trafo Mayang ini juga, beberapa kelompok penambangan nampaknya sedang beroperasi.

Jika dihitung-hitung seluruhnya, tak kurang dari 40.000 bibit mangrove sudah ditanam di lokasi bekas tambang oleh Komunitas Akar Bakar. Penanaman bibit ini tersebar luas di beberapa area, termasuk kawasan Hutan Lindung di Desa Sukamandi, Kecamatan Damar, Kabupaten Belitung Timur.***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *